Sahabat PlazaMedis, terdapat beberapa bahaya di tempat kerja yang mempengaruhi lingkungan kerja seperti faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi serta psikologi. Kebisingan merupakan sumber bahaya dari faktor fisika di tempat kerja, yang sumber bahaya tersebut perlu dikendalikan agar tercipta lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan produktif bagi tenaga kerja.

Apakah kebisingan hanya ditemui di tempat kerja saja…??? Tentu TIDAK. Masalah kebisingan tidak hanya merupakan masalah di tempat kerja saja, tetapi masalah kebisingan dapat kita temui di sekitar kita seperti suara pesawat terbang, suara senapan, dll. Bahkan terkadang tanpa kita sadari dan paling sering terpapar dalam kehidupan kita sehari-hari contohnya, earphone yang sering kita pakai saat mendengarkan music dari telepon genggam kita atau alat musik portable, saat mendengarkan musik dalam mobil dengan suara yang keras, sering berada dalam ruangan dengan suara music yang keras atau sejenisnya. Keadaan seperti ini terkadang merupakan suatu hal yang biasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan tanpa kita sadari hal-hal seperti ini dapat mempengaruhi pendengaran kita.

Kebisingan adalah salah satu polusi yang tidak dikehendaki manusia. Dikatakan tidak dikehendaki karena dalam jangka panjang, bunyi-bunyian tersebut akan dapat mengganggu ketenangan kerja, merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi bahkan kebisingan yang serius dapat mengakibatkan kematian. Berdasarkan KepMenKes No. 1405 Tahun 2002, kebisingan merupakan  diartikan sebagai terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu atau membahayakan kesehatan. Namun, ternyata pada kenyataannya kita sering mendengarkan music dengan volume yang keras. Dan suara musik ini bukanlah sesuatu yang tidak kita kehendaki bukan? Dan hal ini jika terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan gangguan pada pendengaran kita.

Anatomi telinga manusia dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian luar telinga, bagian tengah telinga dan bagian dalam telinga. Ketiga bagian tersebut memiliki komponen-komponen berbeda dengan fungsi masing-masing dan saling berkelanjutan dalam menanggapi gelombang suara yang berada di sekitar manusia. Proses penerimaan bunyi dari luar ke dalam telinga, secara sederhana terjadi seperti ini, suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar. Getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam dapat menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. Gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak. Getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.

Secara fisik gendang telinga dapat berlubang karena beberapa hal yang bersifat traumatik, seperti tertusuk oleh benda-benda lancip yang masuk terlalu dalam hingga mencapai gendang telinga, retak pada tulang tengkorak, noise blast seperti ledakan yang sangat keras, atau karena percikan zat-zat kimia tertentu, misalnya asam. Selain penyebab-penyebab traumatik, lubang pada gendang telinga juga dapat terjadi karena adanya infeksi pada bagian tengah telinga yang menjalar hingga gendang telinga. Saat hal ini terjadi, terkadang akan keluar darah dari telinga. Gangguan lubang pada telinga menyebabkan gangguan pada sistem pendengaran manusia dan biasanya tidak disertai oleh rasa sakit. Sebagian besar kasus-kasus yang terjadi adalah temporary hearing loss dan umumnya gendang telinga yang berlubang dapat sembuh dengan sendirinya asal selama proses penyembuhan telinga aman dari kemasukan benda-benda apa pun, termasuk air (ASTINDO, 2011).

Suara yang sangat keras menyebabkan kerusakan pada sel rambut, karena sel rambut yang rusak tidak dapat tumbuh lagi maka bisa terjadi kerusakan sel rambut progresif dan berkurangnya pendengaran.

Pengaruh Kebisingan terhadap tenaga kerja adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan fisiologis dapat berupa peningkatan tekanan darah, nadi dan dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris
  2. Gangguan psikologis berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, emosi dll.
  3. Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan bisa berakibat kepada kecelakaan karena tidak dapat mendengar isyarat ataupun tanda bahaya.
  4. Gangguan pada pendengaran (Ketulian) Merupakan gangguan yang paling serius karena pengaruhnya dapat menyebabkan berkurangnya fungsi pendengaran. Gangguan pendengaran ini bersifat progresif tapi apabila tidak dikendalikan dapat menyebabkan ketulian permanen.

Cara mengendalikan kebisingan :

  • Pengurangan kebisingan pada sumbernya

Hal ini bisa dilakukan dengan menempelkan alat peredam suara pada alat yang bersangkutan. Pada waktu sekarang penelitian dan perencanaan yang disertai teknologi modern, mesin-mesin baru yang mutakhir tidak lagi banyak menimbulkan kebisingan. Suara yang ditimbulkan juga suda tidak lagi mengganggu dan membahayakan lingkungan.

  • Penembatan penghalang pada jalan transmisi

usaha ini dilakukan dengan jalan mengadakan isolasi ruangan atau alat-alat penyebab kebisingan dengan jalan menempatkan bahan-bahan yang mampu menyerap suara sehingga suaara-suara yang keluar tidak lagi merupakan gangguan bagi lingkungan.

  • Pemakaian sumbat atau tutup telinga

Cara ini terutama dianjurkan kepada orang yang berada di sekitar sumber kebisingan yang tidak dapat dikendalikan, seperti ledakan. Alat penyumbat telinga ini bisa mengurangi intensitas kebisingan kurang lebih 24 dB tergantung jenis tutup telinga.

NAB kebisingan di tempat kerja berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.13/MEN/X/2011 TAHUN 2011 yang merupakan pembaharuan dari Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. 01/MEN/1978, dan Keputusan Menteri Kesehatan No: 405/Menkes/SK/XI/2002 besarnya rata-rata 85 dB-A untuk batas waktu kerja terus-menerus tidak lebih dari 8 jam atau 40 jam seminggu.

Sahabat PlazaMedis, sangat menarik bukan pembahasan mengenai KEBISINGAN ditempat kerja. Saya akan melanjutkan pemaparan tentang hal ini di waktu yang akan datang.

Oleh, Dr Joe J Sakul
Desember, 2020