Pada dasarnya, demam dapat menguntungkan maupun merugikan. Beberapa bukti penelitian menunjukkan fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja baik pada temperatur demam dibandingkan suhu normal. Namun, pada saat demam akan terjadi peningkatan metabolisme tubuh yang membuat anak sangat tidak nyaman dan dehidrasi karena peningkatan penguapan cairan tubuh.

Demam juga berfungsi sebagai peringatan pada tubuh untuk membuat zat kimia pelawan infeksi, seperti sel darah putih dan antibodi. Meski demikian, ketika suhu tubuh anak terus meningkat sampai 39°C, maka kita cenderung ingin menurunkan suhunya.

Demam dengan peningkatan suhu tubuh yang terlalu tinggi memerlukan kewaspadaan karena dapat berdampak buruk seperti meningkatnya risiko kejang demam terutama pada anak di bawah 5 tahun. Selain itu, demam di atas 41°C dapat menyebabkan hiperpireksia yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan berbagai perubahan metabolisme, fisiologi, dan akhirnya kerusakan susunan saraf pusat. Pada awalnya anak tampak menjadi gelisah disertai nyeri,kepala, pusing, kejang, serta akhirnya tidak sadar. Keadaan koma terjadi bila suhu >43°C dan kematian terjadi dalam beberapa jam bila suhu 43°C sampai 45°C.

Demam menjadi kasus terbanyak pada anak yang masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD). Anak disebut deman jika suhu tubuhnya di atas 37,5°C.

Menurut sebuah penelitian terungkap bahwa 69% komplikasi demam yang utama adalah terjadinya kejang demam. Sedangkan yang lain menyatakan bahwa komplikasi utama dari demam adalah terjadinya kerusakan otak (36%), kehilangan kesadaran (35%), kesakitan
yang parah (28%), dehidrasi (18%), bahkan kematian (18%).

Namun, untuk mengetahui demam tersebut mengarah ke penyakit lain atau tidak, butuh waktu tiga hari. Biasanya, setelah dilakukan pemeriksaan, dokter akan memberikan obat penurun demam terlebih dahulu, dengan catatan si anak tidak memiliki riwayat kejang. Lalu, dokter pun akan memberikan pesan untuk kembali lagi ketika demam anak tidak sembuh setelah tiga hari.